Latar Belakang Upacara Merti Bumi Bulus Tempel

 

Upacara adat Merti Bumi di dusun Bulus Tempel berawal dari sebuah kisah turun-temurun. Alkisah, suatu masa, dusun Bulus Tempel mengalami masa sulit. Seluruh hasil pertanian warga, seperti padi dan berbagai tanaman lainnya, diserang oleh hama yang sangat ganas. Warga desa sudah berusaha keras melawan hama tersebut, namun mereka kalah.

Dalam keputusasaan, muncullah Dewi Sri, sang dewi pertanian, yang memberikan bantuan. Berkat kekuatan Dewi Sri, hama-hama tersebut berhasil ditaklukkan dan dimusnahkan. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan untuk mengenang bantuan dari Dewi Sri, para leluhur kemudian mewariskan tradisi upacara Merti Bumi. Upacara ini menjadi simbol ucapan terima kasih atas kesuburan bumi dan berkah hasil panen yang melimpah.


 

Pelaksanaan Upacara Adat

 

1. Persiapan Gotong Royong Persiapan upacara Merti Bumi merupakan wujud nyata dari semangat gotong royong. Seluruh warga, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, bahu-membahu menyiapkan segala keperluan. Para lelaki membuat ancak dan kerangka gunungan, sementara para perempuan mengumpulkan hasil bumi untuk disusun menjadi gunungan. Mereka juga menyiapkan berbagai ubarampe lain, seperti tumpeng, ingkung, dan perlengkapan untuk kirab bregada, seperti panah dan tombak.

2. Kirab Bregada Suto Ijoyo Rangkaian acara dilanjutkan dengan kirab budaya. Kirab ini dipimpin oleh Bregada Suto Ijoyo, yang namanya diambil dari leluhur Bulus Tempel. Bregada ini melambangkan prajurit yang gagah berani dan tangguh, menunjukkan persatuan dan tekad kuat seluruh warga. Dalam kirab ini, rombongan membawa gunungan uluwetu (hasil bumi), yang menjadi simbol kesuburan dan kemakmuran bumi Bulus Tempel. Turut serta dalam kirab adalah para sesepuh, warga pembawa tumpeng dan ingkung, serta prajurit wanita pembawa panah.

3. Doa Bersama dan Rebutan Gunungan Acara puncaknya diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh. Doa ini dipanjatkan sebagai permohonan agar dusun Bulus Tempel senantiasa dijauhkan dari marabahaya, damai, dan makmur.

Setelah doa selesai, acara dilanjutkan dengan rayahan gunungan. Sesepuh mengambil salah satu hasil bumi sebagai simbol dimulainya prosesi. Warga kemudian berebut gunungan yang berisi berbagai hasil bumi. Tradisi ini diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.

4. Kembul Bujana dan Kesenian Rangkaian upacara Merti Bumi diakhiri dengan kembul bujana, yaitu makan bersama seluruh warga dengan hidangan tumpeng dan ingkung yang telah disiapkan. Sebagai penutup, biasanya diadakan Pagelaran Kesenian Jathilan untuk memeriahkan acara dan semakin mempererat tali persaudaraan antarwarga.


 

Makna dan Nilai-Nilai

 

Upacara Adat Merti Bumi Bulus Tempel tidak hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga mengandung makna dan nilai-nilai luhur, antara lain:

  • Rasa Syukur: Ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas berkah hasil panen dan kesuburan bumi.
  • Gotong Royong: Mempererat persatuan dan kekompakan warga dalam menyelesaikan pekerjaan berat.
  • Melestarikan Budaya: Menjaga dan merawat tradisi luhur para leluhur.
  • Hubungan dengan Alam: Mengingatkan manusia untuk selalu menjaga dan melestarikan alam sekitar.

Tradisi ini adalah cerminan dari semangat persatuan, kebersamaan, dan rasa syukur yang diharapkan bisa terus menjaga dusun Bulus Tempel menjadi tempat yang gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja